Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, kembali menjadi pusat perhatian setelah dia mengusulkan pembentukan koalisi permanen dalam Kabinet Merah Putih kepada Presiden Prabowo Subianto. Gagasan ini langsung menimbulkan pertimbangan politik yang menginterpretasikan langkah tersebut sebagai langkah Bahlil untuk melindungi posisinya dari kemungkinan adanya reshuffle kabinet. Founder Citra Institute, Yusak Farchan, menilai bahwa sebelumnya Bahlil telah beberapa kali menjadi sorotan isu perombakan kabinet. Oleh karena itu, wacana koalisi permanen yang dia sampaikan saat perayaan HUT ke-61 Golkar memiliki pesan politik yang sangat jelas.
Menurut Yusak Farchan, Bahlil berusaha menunjukkan kepada Presiden Prabowo bahwa Golkar siap mendukung pemerintahan. Langkah ini dianggap sebagai manuver yang muncul pada saat yang sensitif, di mana Bahlil, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, sedang menjadi sorotan publik karena berbagai isu kebijakan di kementeriannya. Menurut Yusak, Bahlil sedang membangun citra bahwa Golkar adalah sekutu yang paling setia bagi Prabowo, yang merupakan inti dari manuver politiknya. Menurutnya, strategi politik ini dapat dilihat sebagai upaya Bahlil untuk meningkatkan posisi Golkar di mata Presiden sehingga peran partai tersebut semakin kuat dalam struktur kekuasaan pemerintahan.




