Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, menewaskan sedikitnya 12 ekor bekantan. Kebakaran itu juga menyebabkan satu ular piton dan satu king kobra ditemukan mati di kawasan yang menjadi wilayah jelajah satwa tersebut.
Anggota Komisi IV DPR RI Usman Husin meminta Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat penanganan karhutla sejak titik api pertama kali terdeteksi. Menurut dia, pemadaman yang terlambat dapat memperluas kebakaran sekaligus memperbesar ancaman terhadap habitat satwa liar dan keselamatan warga.
Bekantan mati di kawasan jelajah
Berdasarkan laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, 12 individu bekantan ditemukan mati akibat kebakaran lahan di Desa Balimau. Dua jenis satwa lain, yakni ular piton dan king kobra, juga menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
BKSDA Kalsel menyebut areal yang terbakar merupakan areal penggunaan lain (APL), yang terdiri atas tanah desa dan tanah milik masyarakat. Meski bukan kawasan konservasi, wilayah itu termasuk area jelajah bekantan.
Kepala desa setempat menyampaikan terdapat sekitar 60 bekantan di kawasan tersebut. Namun, BKSDA masih perlu memverifikasi jumlah itu melalui pemantauan langsung dan pengumpulan data di lapangan.
Usman menilai, korban satwa dalam peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata berkaitan dengan pemadaman api. Perlindungan ekosistem dan satwa liar, kata dia, juga harus menjadi bagian dari respons pemerintah.
“Seharusnya sejak awal kebakaran terjadi, pemerintah melalui instansi terkait sudah melakukan pemadaman secara cepat dan maksimal. Jangan sampai api meluas dan kemudian mengancam habitat satwa serta keselamatan masyarakat,” ujar Usman.
Pemantauan dan evakuasi disiapkan
Selain mempercepat pemadaman, Usman mendorong pemerintah menyiapkan langkah antisipasi bagi satwa dilindungi yang masih berada di wilayah rawan kebakaran. Evakuasi, menurut dia, perlu dilakukan apabila kondisi di lapangan memungkinkan.
“Satwa-satwa yang berada di lokasi rawan kebakaran harus menjadi perhatian. Jika kondisi memungkinkan, perlu dilakukan penyelamatan atau evakuasi agar korban tidak terus bertambah,” kata Usman, Jumat (18/9/2026).
BKSDA Kalsel menyatakan akan memantau satwa yang masih berada di lokasi kebakaran. Satwa yang ditemukan sakit atau membutuhkan pertolongan akan dievakuasi. Lembaga itu juga akan mengkaji kelayakan habitat serta kemungkinan translokasi apabila diperlukan.
Usman meminta Kemenhut, pemerintah daerah, BKSDA, pemadam kebakaran, dan instansi terkait memperkuat koordinasi di lapangan. Pemantauan titik api juga perlu dilakukan secara intensif agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.
“Karhutla harus segera dipadamkan secara total. Jangan sampai kebakaran terus berlangsung dan asap semakin membahayakan masyarakat maupun satwa liar. Perlindungan terhadap ekosistem harus menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla,” tandas Usman Husin.





