Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dalam situasi geopolitik global yang sulit dihindari menjadi perhatian utama dalam struktur ekonomi dan energi saat ini. Anggota Komisi VI DPR RI, Asep Wahyuwijaya, menyoroti perlunya pemahaman bahwa penyesuaian harga BBM adalah untuk menjaga keberlanjutan fiskal dan sektor energi nasional. Meskipun demikian, dampak kenaikan harga harus dikelola secara tepat agar tidak memberatkan masyarakat kecil dan sektor produktif secara berlebihan.
Asep juga menegaskan pentingnya peran PT Pertamina (Persero) dalam menjaga stabilitas energi nasional dan bukan hanya sebagai badan usaha komersial semata. Kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi menimbulkan efek berantai luas mulai dari biaya logistik hingga peningkatan inflasi jika tidak diantisipasi dengan tepat. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis seperti menjaga stabilitas pasokan dan distribusi, meningkatkan transparansi dalam penetapan harga, memastikan ketersediaan BBM subsidi, perlindungan sosial, stabilisasi harga kebutuhan pokok, serta pengawasan distribusi yang ketat. Ini semua bertujuan untuk mengurangi beban penyesuaian harga yang harus ditanggung masyarakat menengah ke bawah. Asep menekankan bahwa kebijakan energi harus adaptif dan berpihak kepada masyarakat, dengan Pertamina sebagai penopang stabilitas energi nasional.





