Sebuah peristiwa tragis terjadi di Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026) ketika seorang pejalan kaki meninggal setelah terlindas bus Transjakarta di Jalan Margasatwa Raya, Pondok Labu. Kejadian ini memunculkan perhatian tidak hanya terhadap keselamatan transportasi publik, tetapi juga terhadap kinerja finansial operator bus tersebut.
Menurut Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, peristiwa ini seharusnya menjadi titik refleksi penting. Namun, ironisnya, laba PT Transportasi Jakarta terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2024, laba perusahaan hanya sekitar Rp197 miliar, jauh lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa meskipun subsidi dari APBD DKI Jakarta pada tahun 2024 meningkat menjadi sekitar Rp3,6 triliun, laba perusahaan justru mengalami penurunan. Uchok menilai kondisi “subsidi tinggi, laba minimal” sebagai sinyal serius yang perlu ditangani dengan serius. Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik yang masuk ke perusahaan transportasi tersebut.
Untuk itu, Uchok meminta Kejaksaan Agung untuk menyelidiki kinerja keuangan perusahaan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat memastikan tidak ada penyimpangan dalam pengelolaan dana publik dan mendorong perbaikan tata kelola transportasi publik di Jakarta. Dalam kondisi duka atas korban jiwa, keselamatan layanan dan transparansi keuangan Transjakarta menjadi sorotan utama, menuntut tanggung jawab dan perbaikan yang tidak hanya untuk keamanan, tetapi juga kepercayaan publik.





