ASNI Sentil BCA soal Akuisisi: Haji Isam Soroti Perseroan Terbuka

by

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membantah rumor mengenai rencana akuisisi saham oleh Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Bantahan tersebut kemudian dikritik Koordinator Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia (ASNI), Pamit Andrianto, yang menilai respons manajemen BCA terhadap isu itu disampaikan secara tergesa-gesa dan emosional.

BCA Tegaskan Rumor Akuisisi Tidak Benar

Rumor mengenai aksi korporasi terhadap BCA sebelumnya beredar di media sosial. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan informasi tersebut tidak benar.

“Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” ujar Hera dalam keterangannya pada Jumat (25/9/2026).

Hera juga mengimbau masyarakat dan nasabah untuk memperoleh informasi mengenai BCA melalui sumber resmi perusahaan serta media yang kredibel. Pernyataan itu menjadi penjelasan resmi BCA terkait rumor yang mengaitkan perseroan dengan rencana akuisisi saham oleh Haji Isam.

Pamit Soroti Cara BCA Merespons Isu

Pamit menilai penjelasan BCA tidak terdengar seperti komunikasi bisnis yang tenang dan meyakinkan. Menurut dia, gaya bantahan tersebut justru dapat memunculkan pertanyaan mengenai sikap komisaris dan direksi BCA terhadap Haji Isam.

“Bantahan ini memperlihatkan pihak jajaran komisaris dan direksi merasa tidak senang atau tidak suka kepada sosok Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam,” ujar Pamit dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

Ia menyebut respons BCA terhadap rumor di media sosial terkesan terburu-buru. “Lihat saja cara mereka membantah. Bukan nada bicara dengan tenang dan meyakinkan, tetapi tergesa-gesa, berapi-api, seolah ada yang ingin diusir dari komisaris atau direksi sebelum sampai di depan pintu,” katanya.

Pamit juga menilai pernyataan Hera tidak berhenti sebagai klarifikasi perusahaan, tetapi berpotensi membentuk kesan bahwa ada ketidaksukaan terhadap kemungkinan masuknya Haji Isam ke dalam struktur kepemilikan BCA. Ia menggambarkan situasi tersebut dengan perumpamaan BCA sebagai rumah pribadi yang menolak kedatangan tamu tertentu.

“Seolah-olah BCA itu rumah pribadi yang baru saja mendengar tamu yang tidak diundang berjalan mendekat. Padahal di papan nama tertulis, BCA adalah perseroan terbuka, milik semua pemegang saham,” ujar Pamit.

Dinilai Perlu Berkomunikasi secara Profesional

Menurut Pamit, status BCA sebagai perusahaan terbuka membuat perseroan perlu menyampaikan informasi mengenai isu kepemilikan saham atau aksi korporasi secara profesional. Ia mempertanyakan alasan rumor tersebut harus dibantah dengan respons yang menurutnya keras.

“Kalau Haji Isam datang membawa uang yang sah, kenapa harus ditolak? Apakah uangnya beda warna? Atau mereka takut ada yang ikut memeriksa isi kekayaan BCA di lemari besi?” sindirnya.

Pamit menduga respons tersebut mungkin berkaitan dengan kekhawatiran terganggunya kenyamanan di lingkungan internal BCA. Namun, ia tidak menyertakan bukti yang mengonfirmasi dugaan itu.

Ia juga menyinggung adanya aturan tidak tertulis dalam dunia bisnis yang membuat akses terhadap kepemilikan perusahaan besar tidak selalu terbuka bagi semua pihak. Pamit kemudian mempertanyakan apakah BCA benar-benar menganggap rumor itu sebagai ancaman atau hanya merasa terganggu oleh kemunculan figur baru yang berpotensi mengubah dinamika internal.

“Apakah BCA benar-benar terancam, atau hanya merasa terganggu karena ada sosok baru yang tidak main sesuai aturan main Bank BCA yang belum diketahui publik?” katanya.

Pamit menutup kritiknya dengan menyebut respons perusahaan terhadap rumor tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam komunikasi publik perseroan, khususnya karena isu strategis dapat memengaruhi persepsi investor. “Tapi satu hal jelas, ketakutan Bank BCA yang terlihat sering kali lebih jujur daripada penjelasan yang disusun rapi,” pungkasnya.

Source link