**CBA Soroti Laba PHE Anjlok USD945,5 Juta Usai Ganti Pimpinan**

by

Laba bersih PT Pertamina Hulu Energi (PHE) turun tajam pada 2025, meski arus kas dari aktivitas operasional perusahaan justru meningkat. Berdasarkan Laporan Tahunan PHE 2025, laba tahun berjalan tercatat sebesar USD2,175 miliar, merosot sekitar USD945,55 juta atau 30,30 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar USD3,121 miliar.

Penurunan itu terjadi bersamaan dengan perubahan jajaran pimpinan perusahaan pada pertengahan 2025. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, yang menilai pelemahan kinerja PHE perlu dicermati lebih lanjut.

Laba dan pendapatan sama-sama turun

Selain laba, pendapatan usaha PHE juga mengalami penurunan. Pada 2025, pendapatan usaha tercatat USD13,819 miliar, turun USD510,72 juta atau 3,56 persen dari USD14,330 miliar pada tahun sebelumnya.

Dalam laporan tahunannya, PHE menyebut penurunan laba antara lain dipengaruhi oleh kenaikan biaya depresiasi serta penyisihan penurunan nilai aset nonkeuangan. Artinya, penurunan laba tidak hanya berkaitan dengan pendapatan usaha, tetapi juga dipengaruhi beban dan penyesuaian nilai aset yang tercatat dalam laporan keuangan.

Tren laba PHE dalam tiga tahun terakhir menunjukkan capaian yang berubah-ubah. Pada 2023, laba tahun berjalan perusahaan mencapai USD2,725 miliar. Angka itu meningkat menjadi USD3,121 miliar pada 2024, sebelum kembali turun menjadi USD2,175 miliar pada 2025.

Perubahan pimpinan menjadi sorotan

Perubahan kepemimpinan PHE resmi berlangsung pada 8 Juli 2025. Pada saat itu, Awang Lazuardi dikukuhkan sebagai Direktur Utama, menggantikan Chalid Said Salim. Sebelum menjadi direktur utama, Awang menjabat Direktur Pengembangan dan Produksi PHE.

Dalam perubahan yang sama, Denny Januar Ali atau Denny JA ditunjuk sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen melalui keputusan pemegang saham pada Juli 2025. Sebelumnya, Rinaldi Firmansyah menjabat Komisaris Utama, sementara Chalid Said Salim menduduki posisi Direktur Utama. Dokumen perusahaan mencatat keduanya masih berada dalam jajaran pimpinan sebelum perubahan pada Juli 2025.

Uchok mengaitkan penurunan laba dengan pergantian pimpinan tersebut. “Setelah ada pergantian pimpinan di level atas, dari Chalid Said Salim ke Awang Lazuardi, atau dari Rinaldi Firmansyah ke Denny Januar Ali, PT Pertamina Hulu Energi seperti kena nasib malang dan tragis,” kata Uchok Sky, Ahad (27/9/2026).

Ia juga menduga proses pengangkatan atau lifting minyak mentah turut berkaitan dengan rendahnya laba. “Jangan-jangan minimnya dan turunnya laba PT Pertamina Hulu Energi pada 2025 disebabkan minyak mentah yang mau diangkat itu memakai metode survei, ditanya dulu dengan banyak pertanyaan,” ujarnya.

Uchok kemudian menyatakan proses tersebut membutuhkan biaya dan pembayaran lebih awal. “Ketika minyak mentah mau diangkat, harus membayar dulu. Karena memakai metode survei, baik untuk politik maupun angkat minyak mentah, ongkos mahal, dan harus membayar lebih dulu,” kata dia.

Arus kas operasi meningkat

Meski laba bersih menyusut, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi PHE pada 2025 mencapai USD6,96 miliar. Nilai itu naik 23,62 persen dibandingkan USD5,63 miliar pada 2024.

Hubungan antara pergantian pimpinan dan penurunan laba merupakan penilaian Uchok. Sementara itu, penjelasan dalam laporan tahunan perusahaan menitikberatkan penurunan laba pada kenaikan depresiasi dan penyisihan penurunan nilai aset nonkeuangan. Perbedaan antara laba bersih dan arus kas operasi tersebut membuat kinerja PHE perlu dilihat melalui sejumlah indikator, bukan hanya dari perubahan laba tahunan.

Source link