Dampak Kasus Korupsi Eks Dirut Bank BJB Terhadap Kinerja Perbankan
JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mengusut kasus dugaan korupsi terkait pengadaan iklan yang melibatkan mantan Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB), Yuddy Renaldi. Penelusuran ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap kinerja bank tersebut, menurut Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi.
Potensi Dampak Korupsi terhadap Kinerja Bank BJB
Uchok menyoroti bahwa kasus korupsi dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap Bank BJB, yang merupakan bank milik pemerintah daerah. Dampaknya dapat terlihat dari penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencakup tabungan, giro, dan deposito. Data menunjukkan adanya penurunan DPK Bank BJB dalam rentang waktu 2024–2025. Pada tahun 2023, DPK mencapai sekitar Rp126,4 triliun, namun turun menjadi Rp122 triliun pada 2025.
Kinerja Operasional dan Penyaluran Kredit
Selain DPK, CBA juga mencermati penurunan kinerja dalam penyaluran kredit Bank BJB. Berbagai jenis kredit seperti konsumer, UMKM, korporasi, term loan, dan segmen kredit lainnya mengalami penurunan signifikan. Total kredit Bank BJB turun dari Rp119,4 triliun pada 2024 menjadi Rp111,9 triliun pada 2025. Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam operasional pinjaman Bank BJB.
Penurunan jumlah pegawai Bank BJB juga menjadi sorotan CBA. Data menunjukkan penurunan dari 7.068 orang pada 2024 menjadi 6.801 orang pada 2025. Uchok menekankan bahwa penurunan ini dapat berdampak pada kondisi bisnis dan efisiensi perusahaan.
Kepemilikan Saham dan Tata Kelola Perusahaan
Sebagai bank pembangunan daerah, Bank BJB memiliki kepemilikan saham yang terdiri dari berbagai pemerintah daerah dan masyarakat. Uchok menekankan pentingnya tata kelola dan penanganan kasus dugaan korupsi dalam bank ini, mengingat sahamnya mayoritas dimiliki oleh pemerintah daerah.
Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan pimpinan Bank BJB ini kini menjadi fokus KPK. Harapannya, proses hukum dapat mengungkap pelaku dan memastikan pertanggungjawaban kerugian negara, jika ada. Kasus ini menjadi cerminan penting atas pentingnya transparansi dan tata kelola perusahaan, terutama dalam bank yang memiliki hubungan langsung dengan masyarakat.
Post Views: 33





