Hasil diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Rusia telah mendapat beragam tanggapan dari kalangan akademisi. Kerja sama ini mencakup suplai minyak mentah, LPG, serta pengembangan fasilitas penyimpanan energi dinilai sebagai langkah strategis. Namun, kesepakatan tersebut memerlukan implementasi yang matang agar dapat memberikan dampak positif bagi Indonesia.
Kerja sama antara Bahlil dan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, melibatkan diversifikasi pasokan energi dan pembangunan infrastruktur penunjang ketahanan energi nasional. Menurut peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral dari ITS, Ridho Hantoro, tambahan pasokan energi dari Rusia merupakan langkah taktis yang relevan dalam menghadapi dinamika pasar energi global.
Ridho juga menyoroti pembangunan fasilitas penyimpanan sebagai bagian penting dari kerja sama ini. Menurutnya, penguatan infrastruktur ini memiliki dampak jangka panjang terhadap ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilan kebijakan ini tidak hanya terletak pada capaian diplomasi semata. Implementasi di lapangan juga harus diukur melalui indikator konkret seperti harga yang kompetitif, kesesuaian minyak mentah dengan kilang domestik, dan efektivitas distribusi LPG.
Dosen dan peneliti kebijakan publik dari Universitas Negeri Surabaya, Ahmad Nizar Hilmi, juga menyoroti aspek geopolitik kerja sama ini. Menurutnya, kerja sama dengan Rusia perlu dipahami sebagai bagian dari konfigurasi ekonomi-politik energi global yang dapat memengaruhi kebijakan domestik. Para akademisi berharap pemerintah dapat memastikan bahwa hasil diplomat ini benar-benar mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap ketahanan dan kemandirian energi nasional, bukan hanya sebagai pencapaian formal di level internasional.





