Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang mempertimbangkan untuk melakukan perombakan kabinet, namun keputusan ini tidak hanya didasarkan pada penilaian kinerja menteri atau tekanan opini publik. Menurut Nurul Fatta, seorang peneliti dari Politika Research & Consulting, faktor utama yang mempengaruhi reshuffle kabinet adalah untuk menjaga keseimbangan politik dan stabilitas nasional. Kabinet dalam konfigurasi politik saat ini tidak hanya berperan sebagai lembaga eksekutif, tetapi juga sebagai alat strategis untuk menjaga hubungan antara Presiden dengan parlemen.
Menurut Nurul, reshuffle kabinet tidak akan menyasar figur-figur kuat seperti Bahlil Lahadalia atau Zulkifli Hasan, karena posisi elite partai politik dalam kabinet sangat penting untuk menjaga soliditas dukungan politik di DPR. Kehadiran pimpinan partai politik seperti Bahlil Lahadalia, Zulkifli Hasan, Muhaimin Iskandar, dan Agus Harimurti Yudhoyono di kabinet dianggap dapat meredam potensi friksi politik di parlemen dan mengamankan stabilitas politik.
Nurul memprediksi bahwa kemungkinan pergantian menteri yang juga sebagai ketua umum partai politik sangat kecil. Hal ini karena risiko mengganggu keseimbangan politik dan melemahkan dukungan parlemen terhadap agenda pemerintah. Sebaliknya, calon yang lebih berpotensi menjadi target reshuffle berasal dari kalangan partai nonparlemen. Reshuffle kabinet yang mempertahankan tokoh sentral partai di dalamnya diharapkan dapat menjaga stabilitas politik dan hubungan antara Presiden dan DPR.





