Ancaman Baru Keuangan Negara Akibat Blockhan Nastrap

by -76 Views

Ancaman terhadap stabilitas keuangan negara kini tidak lagi datang dari kejahatan konvensional semata. Di balik layar teknologi canggih, lahir sebuah bentuk kejahatan baru yang bergerak cepat, lintas negara, tanpa wajah, dan langsung menembus sistem keuangan. Informasi ini diungkapkan oleh Sanyata Sumanasa Wira Aksara (novelty), lulusan terbaik dalam bidang Pendidikan Sespimti Polri Dikreg 34 Gelombang 2, yaitu KBP Dr. M. Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.M., M.H.

Menurut Arshal, pada Naskah Strategis (NASTRAP) terbaik yang dibuatnya, Arsal membahas strategi Polri dalam mengatasi dampak negatif teknologi blockchain untuk menjaga stabilitas keuangan negara. Kejahatan yang dia angkat adalah cyber dependent financial crime, yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk melakukan peretasan, pencucian aset digital, dan transfer dana lintas yurisdiksi dengan kecepatan tinggi dan sulit terungkap dengan pendekatan konvensional.

Arsal menekankan bahwa kejahatan berbasis blockchain merupakan ancaman langsung terhadap sistem keuangan negara, karena sifatnya yang lintas negara, multi-yurisdiksi, anonim, dan bergerak sangat cepat. Menurut Sahban, pendekatan penanganan kejahatan semacam ini harus adaptif, kolaboratif, dan berbasis pemahaman mendalam terhadap teknologi blockchain. Hal ini sejalan dengan transformasi kepemimpinan Polri di era digital.

Kasespim Polri Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi Polri saat ini sangat kompleks, disruptif, dan bernuansa digital. Realitas tersebut menuntut perubahan paradigma kepemimpinan dan pemahaman ancaman global yang berkembang sangat cepat. Dengan penutupan Pendidikan Sespimti Polri Dikreg 34 Gelombang 2 pada 17 Desember 2025, diharapkan lahirnya pemimpin strategis Polri yang mampu menjawab tantangan keamanan nasional, termasuk ancaman kejahatan digital dan keuangan yang semakin kompleks.

Melalui NASTRAP terbaiknya, KBP Arsal Sahban memberikan perspektif baru tentang peran Polri dalam menjaga stabilitas keuangan negara di tengah perkembangan teknologi global yang pesat.

Source link