Pasar kripto telah mengalami penurunan selama seminggu terakhir, terutama terlihat pada bitcoin (BTC) yang mengalami penurunan tajam hingga di bawah USD 90.000. Menurut data Coinmarket pada Sabtu, 22 November 2025, harga bitcoin turun 1,85% dalam 24 jam terakhir dan merosot 11,04% selama seminggu terakhir, saat ini berada di posisi USD 84.852 atau sekitar Rp 1,41 miliar.
Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrus, mengungkapkan bahwa prospek harga bitcoin sampai akhir 2025 sangat dipengaruhi oleh arah pasar global, likuiditas, dan respon investor institusi. Dalam skenario bullish, bitcoin memiliki potensi untuk mencapai USD 100.000-USD 120.000 jika terjadi aliran dana yang kuat ke exchange traded fund (ETF), kondisi makro yang membaik, dan evek halving yang menciptakan tekanan suplai positif.
Namun, dalam skenario bearish, Fachrurs memperkirakan harga bitcoin dapat stagnan atau bahkan tertekan hingga USD 60.000-USD 70.000, tergantung pada tekanan ekonomi makro dan arus keluar dari ETF. Faktor seperti suku bunga tinggi, inflasi yang meningkat, atau regulasi yang lebih ketat dapat menjadi penghambat pemulihan harga.
Penyebab kenaikan atau penurunan harga bitcoin juga dipengaruhi oleh faktor makro global, arus dana institusional, dan dinamika pasar kripto secara umum. Sejumlah faktor ini akan memainkan peran penting dalam menentukan arah bitcoin hingga akhir tahun 2025.




