Seskab Teddy Indra Wijaya dilihat menggunakan gaya kerja yang empatis dengan turun langsung bertemu masyarakat, memperkuat praktik empathetic governance dalam tata kelola pemerintahan. Menurut pengamat politik Amsori Baharudin Syah, sikap Teddy yang mendengar langsung keluhan dan masukan masyarakat melebihi peran teknis seorang pejabat kabinet. Dengan hadir secara personal di tengah warga, Teddy menunjukkan bahwa pelayanan publik sejatinya memerlukan ruang dialog dan kedekatan.
Pendekatan Teddy yang berbeda ini dianggap jarang ditemui di kalangan pejabat tinggi negara, di mana hubungan antara pemerintah dan rakyat seringkali terasa jauh. Konsep empathetic governance yang diterapkan Teddy memberikan kesempatan bagi pemimpin dan masyarakat untuk saling membangun kepercayaan melalui aksi nyata, bukan hanya mengandalkan otoritas jabatan semata.
Melalui kehadirannya di sekolah-sekolah rakyat dan gestur sederhana seperti duduk bersama anak-anak, Teddy mencerminkan nilai negara yang merangkul seluruh lapisan warganya. Pendekatan empatik Teddy diyakini dapat memperkuat citra kabinet sebagai pemimpin yang memahami realitas di lapangan, yang sangat penting dalam politik Indonesia saat ini. Dengan mau mendengar dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, Teddy menegaskan bahwa kekuatan negara sejatinya tumbuh dari keterlibatan dan empati terhadap rakyat.





