Presiden Temasek Global Investments, Nagi Hamiyeh, menyatakan bahwa perusahaan belum mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam kripto. Hal ini disebabkan oleh upaya Temasek dalam mengatasi kerugian yang terjadi di bursa kripto FTX. Menurut Hamiyeh, “Kami tidak memiliki investasi langsung apapun di kripto.”
Alasan Ketidakpastian Regulasi
Hamiyeh juga menyebutkan bahwa salah satu alasan utama adalah ketidakpastian dalam regulasi di sektor kripto. Beliau mengakui bahwa tidak dapat memprediksi masa depan, terutama dalam peran kripto di perekonomian utama, yang sangat bergantung pada perubahan regulasi yang mungkin terjadi.
Sejauh ini, Temasek lebih fokus pada teknologi blockchain dan infrastrukturnya, dan bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan kontribusi kepada ekonomi riil.
Implikasi Investasi di FTX
Investasi Temasek di bursa kripto FTX yang mengalami kebangkrutan telah menyebabkan penurunan nilai aset hingga US$ 275 juta atau sekitar Rp 4,96 triliun. Hal ini telah menjadi sorotan dan kritik di dalam negeri, terutama dari Lawrence Wong, yang pada saat itu menjabat sebagai wakil perdana menteri dan menteri keuangan Singapura. Wong menyatakan bahwa kerugian tersebut sangat mengecewakan dan merugikan reputasi Singapura.
Visi Jangka Panjang
Menjawab pertanyaan mengenai faktor penting bagi investor jangka panjang, Hamiyeh menaruh harapan pada adopsi kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan ekosistem komersial di sekitarnya. Hal ini lebih diutamakan daripada mengikuti tren model-model terbaru. Menurutnya, “Tidak semua situasi membutuhkan model-model terbaru. Ini semua tentang aplikasi, perusahaan yang menerapkan AI, dan membangun keunggulan kompetitif.”
Selain itu, Temasek juga berfokus pada implementasi fisik AI, seperti otomatisasi, robotika, dan optimasi proses industri. Perusahaan ini berambisi untuk meningkatkan eksposur AI dari 6% portofolionya pada tahun fiskal terakhir menjadi 15% pada tahun 2031.





