Mulyanto: Pemerintah Harus Siapkan Cadangan Strategis BBM Nasional
JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Anggota Komisi Energi DPR RI Mulyanto menyoroti defisit neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2026. Menurutnya, defisit tersebut disebabkan oleh meningkatnya impor sektor migas, terutama BBM dan LPG, yang berpotensi mengganggu stabilitas keuangan negara.
Mulyanto mengungkapkan bahwa persoalan energi bukan lagi hanya masalah sektoral, melainkan telah menjadi isu ketahanan ekonomi nasional. Ia menyoroti pentingnya membangun Cadangan Strategis BBM Nasional untuk menopang kebutuhan impor energi selama 90 hari, sejalan dengan praktik internasional.
Implikasi Defisit Neraca Perdagangan
Surplus perdagangan nonmigas masih mampu menutup defisit migas dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketika harga minyak dunia melonjak dan tanpa cadangan penyangga BBM, impor energi menjadi meningkat, menyebabkan defisit neraca perdagangan.
Mulyanto menegaskan bahwa ketergantungan pada energi impor telah menjadi titik lemah dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, langkah-langkah seperti substitusi LPG dengan CNG berbasis gas bumi domestik disarankan Mulyanto sebagai kebijakan yang tepat.
Pembangunan Cadangan Strategis BBM Nasional
Mulyanto menekankan perlunya membangun Cadangan Strategis BBM Nasional sebagai bagian dari ketahanan energi nasional. Cadangan ini diharapkan dapat berfungsi sebagai penyangga dalam situasi gangguan pasokan global atau lonjakan harga minyak dunia.
Saat ini, kapasitas cadangan operasional BBM Indonesia masih terbatas dibandingkan negara lain. Mulyanto mendorong pemerintah untuk menyusun peta jalan pembangunan cadangan tersebut secara bertahap dengan target minimal mampu menopang kebutuhan impor selama 90 hari.
Mulyanto juga menekankan pentingnya pembenahan manajemen hulu migas dan kebijakan energi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan Indonesia bisa memperkuat ketahanan energinya dan membangun ekonomi yang lebih tangguh di tengah dinamika global. VN-DAN





