Broto Wardoyo Mengulas Hubungan Mitos dan Kekuasaan Politik

by

Dalam sejarah perlawanan bangsa Palestina, nama Yasser Arafat telah menjadi titik tumpu yang tidak terbantahkan meski hidupnya lebih sering berada di bawah bayang-bayang kejaran dan pengasingan.

Sejak berpindah dari Amman, Beirut, Tunis, hingga terjebak di Ramallah, Arafat menjalani sebuah kehidupan yang dipenuhi kepungan militer, ancaman pemboman, pengusiran, serta operasi rahasia yang dilancarkan oleh Israel.

Barry Rubin bersama Judith Colp Rubin dalam biografi “Yasir Arafat: A Political Biography” mengibaratkan perjalanan panjang Arafat sebagai sebuah odyssey yang penuh drama, menghadirkan lika-liku di setiap persinggahan.

Sosok Arafat tak hanya bertahan di tengah berbagai bahaya; ia juga berhasil menjaga spirit perlawanan rakyat Palestina, sehingga wajah dan namanya lekat sebagai ikon yang sulit ditafsirkan sekaligus dipahami di dunia perpolitikan Timur Tengah.

Aburish (1998) menuliskan, istilah seperti misteri, mitos, hingga sulit dipahami kerap melekat pada Arafat, sebab seluruh perjalanan hidupnya dialami di tengah pusaran propaganda, kabut rahasia, serta pertarungan narasi yang tak kunjung usai.

Dalam satu wawancara pada tahun 1982 (Journal of Palestine Studies), Arafat menegaskan bahwa perjuangan Palestina jauh melampaui konflik wilayah, melainkan soal ancaman terhadap eksistensi dan jati diri bangsa mereka sendiri.

Kepemimpinan Arafat tercermin kuat ketika ia mampu membawa Fatah, lalu PLO, menjadi kendaraan politik yang mengangkat status bangsa Palestina dari sekadar pengungsi pasca-1948 menuju pengakuan aktor internasional yang signifikan.

Arafat menggunakan berbagai panggung dunia, seperti Liga Arab, Gerakan Non-Blok, sampai PBB, untuk mempertegas identitas Palestina sebagai bagian dari perjuangan global melawan kolonialisme.

Walau PLO pernah mengalami kekalahan pahit di Yordania dan Lebanon, posisi Arafat tidak pernah goyah sebagai simbol perjuangan yang kokoh.

Rubin dan Rubin menyebut Arafat sebagai figur politik paling berpengaruh sekaligus paradoksal Timur Tengah modern, mampu tetap bertahan di bawah tekanan kekalahan militer serta krisis panjang.

Kepemimpinan Arafat bukan hanya soal strategi, tetapi ia telah menjelma sebagai lambang nasionalisme modern Palestina yang hidup dalam sosok dirinya.

Sebab Arafat dianggap lambang hidup kebangkitan Palestina, berbagai upaya untuk melawannya tidak berhenti pada serangan fisik, tapi juga diarahkan pada penghancuran karakter personal dan moralnya.

Salah satu narasi hitam yang beredar adalah tuduhan mengenai isu orientasi seksual Arafat.

Laporan Al Jazeera pada 6 November 2013 (“Myth Buster: Killing Arafat”) mengungkapkan bahwa rumor mengenai AIDS dan homoseksualitas yang dialamatkan kepada Arafat berasal dari bekas perwira intelijen Rumania yang berhubungan dengan kelompok kanan Barat.

Akan tetapi, seperti dikutip Al Jazeera, seluruh tuduhan itu tidak pernah benar-benar didukung oleh bukti medis atau dokumen yang sahih menyatakan Arafat mengidap HIV/AIDS.

Penulis Israel, Uri Avnery, melalui artikelnya “The Poisoning of Yasser Arafat” di Washington Report on Middle East Affairs tahun 2012 menuding rumor ini sebagai bagian dari mesin propaganda Israel untuk menurunkan legitimasi Arafat.

Keterangan langsung dari lingkaran dalam Arafat, seperti Bassam Abu Sharif, membantah keras isu tersebut dan menegaskan kehidupan Arafat jauh dari rumor yang berhembus.

Lebih jauh lagi, rumor yang menyasar ranah privat Arafat kerap muncul tanpa dasar yang kuat dan cenderung menjadi taktik sistematis untuk menyerangnya secara psikologis.

Misteri terbesar yang tak terpecahkan hingga kini adalah soal wafatnya Arafat. Pada Oktober 2004, secara mendadak Arafat jatuh sakit dan menderita kegagalan organ misterius yang tak pernah dijelaskan secara tuntas oleh pihak rumah sakit di Perancis.

Tidak dilakukan autopsi setelah kematiannya, yang semakin memunculkan berbagai spekulasi.

Tahun-tahun berlalu, tetapi investigasi forensik Swiss sebagaimana diterbitkan di jurnal Forensic Science International justru memperkuat dugaan adanya polonium-210 berlevel tidak wajar di tubuh Arafat, walaupun mereka tetap tak bisa memastikan siapa pelaku utama di balik kematian tersebut.

Seperti dinyatakan Mangin et al. (2016), penyebab pasti kematiannya mungkin akan tetap jadi kasus dingin, meninggalkan ruang bagi interpretasi baru di masa depan.

Kecurigaan pembunuhan melalui racun sebenarnya sudah lama tumbuh di kalangan terdekat Arafat.

Bassam Abu Sharif dalam memoarnya membandingkan kondisi Arafat dengan kasus serupa yang dialami Wadi Haddad, seorang tokoh PFLP yang diyakini tewas akibat racun Mossad.

Menurut Bassam, gejala Arafat tampak terlalu aneh jika hanya dianggap akibat penyakit biasa.

Mencermati perjalanan hidup Arafat, tidak mustahil bahwa kemungkinan pembunuhan memang ada, mengingat betapa rumitnya kehidupan di lintas konflik, operasi rahasia, dan keseharian yang dikepung bahaya.

Arafat selamat dari rentetan tragedi: perang saudara Yordania, invasi Israel ke Lebanon, hingga pengepungan panjang di Ramallah.

Spekulasi kematian akibat racun punya tempat tersendiri dalam konteks realitas politik regional yang memang penuh intrik tajam.

Namun, di tengah segala polemik, Arafat senantiasa mengembalikan narasi perjuangan Palestina ke soal identitas kolektif dan memori nasional mereka.

Arafat menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina tidak semata tentang penguasaan tanah, namun juga mempertahankan ingatan, institusi, sekaligus eksistensi politik rakyat yang telah tercerai-berai.

Karena itu, sosok Arafat terus menjadi pusat kontroversi dan mitos, di mana reputasi, tubuh, kehidupan pribadi, bahkan kematiannya menjadi ajang perebutan wacana berbagai pihak.

Bagi sebagian besar rakyat Palestina, Arafat tetap teguh dikenang sebagai pahlawan anti-kolonialisme, sedangkan bagi pengkritiknya, ia dianggap telah menjerumuskan perjuangan Palestina ke titik buntu, seperti dalam Perjanjian Oslo.

Walaupun demikian, pengaruhnya terlalu besar untuk diringkas hanya dalam satu label—entah itu “teroris” seperti anggapan Barat dan Israel, atau pahlawan tanpa cela menurut para pengagumnya.

Perdebatan tentang Arafat memunculkan paradoks abadi: seiring simbol perjuangan yang ia wakili masih hidup, kisah hidup dan kematiannya tetap jadi perdebatan tanpa henti.

Hingga kini, misteri seputar tubuh dan kepergian Arafat terus menjadi pengingat bahwa pertanyaan dasar tentang masa depan bangsa Palestina belum menemukan jawaban pasti.

Sumber: Yasser Arafat: Simbol Palestina Di Tengah Mitos, Propaganda, Dan Misteri Kematian
Sumber: Yasser Arafat Dan Politik Mitos