Kekerasan Seksual di Kampus dan Pelajaran dari Korsel

by

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, mengekspresikan kekecewaannya terhadap meningkatnya kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Ia menganggap bahwa kampus-kampus telah gagal dalam mencegah kejadian tersebut. Dorongan pun dilontarkan agar universitas-universitas menjadi lebih tegas tidak hanya terhadap pelaku, tetapi juga pada penonton kejadian tersebut.

Habib Syarief meyakini bahwa kampus seharusnya menjadi penjaga peradaban. Namun, serangkaian kasus pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa belakangan ini menunjukkan adanya kegagalan sistem perlindungan manusia di lingkungan kampus maupun dalam ruang digital. Hal tersebut diungkapkan dalam rapat dengar pendapat Komisi X dengan beberapa institusi pendidikan tinggi di Indonesia.

Penegasan dicatat bahwa rapat tersebut bukan hanya untuk merespons insiden, melainkan juga untuk mengevaluasi perlindungan manusia di tengah maraknya aksi pelecehan seksual. Kasus-kasus pelecehan yang terjadi di kampus, seperti grup WhatsApp yang merendahkan, permintaan konten pribadi, serta narasi misoginis dalam lirik lagu, menunjukkan adanya ‘patahan’ dalam sistem perlindungan civitas akademika.

Habib Syarief menyoroti pentingnya hadirnya sistem pengawasan siber yang kuat di lingkungan kampus. Dia juga menarik perbandingan dengan Korea Selatan yang telah mengambil langkah-langkah tegas dalam menanggulangi kejahatan di dunia maya. Pelajaran dari negara tersebut bisa dijadikan acuan bagi Indonesia dalam menghentikan pembiaran, menegakkan hukum, dan menciptakan sistem pengawasan yang efektif demi mencegah kasus kekerasan seksual di kampus. Dengan demikian, perlindungan terhadap mahasiswa bisa terjamin dan ruang-ruang interaksi digital menjadi lebih aman.

Source link