Presiden Prabowo Subianto diminta dengan hati-hati menanggapi pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai stok energi nasional yang disebut masih aman di tengah dampak konflik global. Direktur Eksekutif National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, memperingatkan bahwa pernyataan Bahlil terlalu optimistis dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata. Menurutnya, konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi berlangsung lama dan sulit diprediksi, yang dapat berdampak signifikan terhadap pasokan energi global, termasuk bagi Indonesia.
Siswanto juga menyoroti ketergantungan Indonesia pada jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz yang masih tinggi, sehingga gangguan potensial tidak boleh diabaikan. Ia menegaskan bahwa stok energi Indonesia tidak bisa dipastikan aman mengingat banyak negara lain mengkhawatirkan dampak dari konflik tersebut. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak meremehkan dinamika global dengan pernyataan yang terlalu menenangkan tanpa dasar yang kuat.
Meskipun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disetujui oleh pengamat seperti Siswanto Rusdi. Perbedaan pandangan antara pemerintah dan pengamat menunjukkan ketidakpastian yang terus berkembang terkait ketahanan energi nasional di tengah situasi global yang tidak menentu. Diharapkan bahwa Presiden Prabowo dapat menerima laporan dengan kritis dan tidak hanya percaya pada informasi yang terkesan positif tanpa penilaian yang seksama.





