Dalam dinamika konflik global saat ini, kekuatan militer konvensional tidak lagi menjadi satu-satunya faktor penentu. Tekanan ekonomi dan penguasaan jalur energi menjadi instrumen strategis yang mampu mengguncang stabilitas dunia. Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Pontoh, menyoroti pentingnya elemen non-militer dalam geopolitik modern. Menurutnya, perang tidak selalu harus melibatkan pertempuran fisik. Tekanan ekonomi dan manipulasi ketidakpastian dapat menjadi alat yang efektif dalam mengekang suatu negara. Pontoh menggarisbawahi hubungan kompleks antara degradasi keamanan ekonomi global dan krisis politik. Dalam konteks Indonesia, ketergantungan terhadap impor energi memperkuat urgensi untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pontoh memperingatkan bahwa gejolak di Selat Hormuz bukan hanya isu geopolitik jauh, tetapi juga memiliki dampak langsung pada ekonomi Indonesia. Dia menekankan perlunya langkah-langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi eksternal. Selain itu, penting juga untuk memperkuat norma dan ketentuan hukum internasional agar lebih adaptif terhadap bentuk konflik modern yang semakin kompleks. Kesimpulannya, kekuatan dalam geopolitik modern tidak lagi hanya ditentukan oleh militer, melainkan oleh kemampuan mengendalikan ketergantungan global.
Selat Hormuz: Tantangan Hukum Internasional Energi





