Pada saat ini, Korea Selatan telah mengambil langkah proaktif untuk menghadapi peningkatan kasus kejahatan finansial, terutama penipuan voice phishing yang menggunakan kripto sebagai alat pembayaran. Modus operandi ini seringkali melibatkan penggunaan kartu kredit atau debit untuk membeli kripto di luar negeri dalam upaya untuk menyembunyikan asal usul aliran dana. Diperkirakan kerugian akibat kejahatan semacam ini di Korea Selatan mencapai ratusan juta dolar setiap tahunnya. Seorang analis kepatuhan fintech di Seoul menyambut baik langkah ini dan menyebutnya sebagai pendekatan yang lebih proaktif, yang melibatkan integrasi sistem pengawasan secara menyeluruh dan analisis real-time untuk melacak aliran dana dengan lebih efektif.
Namun, kebijakan ini juga berdampak pada pengguna kripto yang sah, yang diharuskan untuk memastikan bahwa transaksi yang mereka lakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku agar tidak terdeteksi sebagai aktivitas mencurigakan. Langkah yang diambil oleh Korea Selatan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam menghadapi tantangan pencucian uang lintas negara yang menggunakan aset kripto sebagai alat utamanya. Selain itu, dengan adanya kebijakan ini diharapkan dapat meminimalisir kerugian akibat penipuan voice phishing dan kasus kejahatan finansial lainnya yang memanfaatkan kripto sebagai sarana pembayaran.





