Pada Minggu, 8 Maret 2026, ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah pangkalan militer Inggris di Siprus menjadi target serangan drone buatan Iran. Insiden ini terjadi dalam konteks konflik regional yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).
Pangkalan udara RAF Akrotiri, salah satu fasilitas militer penting Inggris di wilayah Mediterania Timur, dilaporkan diserang oleh drone tipe Shahed pada awal pekan ini. Drone tersebut merupakan pesawat nirawak Iran yang sering digunakan dalam konflik di daerah tersebut.
Menurut laporan The Guardian, serangan ini menyebabkan kerusakan ringan pada pangkalan, namun tidak menimbulkan korban jiwa. Meskipun demikian, insiden ini menyebabkan peningkatan status keamanan di pangkalan militer Inggris di Siprus.
Media internasional melaporkan bahwa drone yang diluncurkan dari Lebanon diduga bertanggung jawab atas serangan terhadap RAF Akrotiri. Hizbullah, sekutu Iran di wilayah tersebut, diduga terlibat dalam pengoperasian drone tersebut.
Pemerintah Siprus mencatat bahwa serangan terjadi sekitar tengah malam dan menargetkan instalasi militer di kompleks pangkalan Inggris. Otoritas juga berhasil menghalau dua drone lain yang menuju ke wilayah yang sama sebelum mencapai target. Serangan ini merupakan insiden serius yang melibatkan fasilitas militer Inggris di Siprus dalam beberapa dekade terakhir.
Tanggapan terhadap serangan tersebut melibatkan peningkatan kesiapan militer oleh pemerintah Inggris di Mediterania Timur. Kapal perusak HMS Dragon dan jet tempur F-35 dikerahkan untuk memperkuat pertahanan udara dan memberikan respons cepat terhadap kemungkinan serangan selanjutnya.
Pangkalan RAF Akrotiri, yang berperan strategis dalam operasi militer Inggris di Timur Tengah, juga memunculkan kekhawatiran di Siprus. Sejumlah kelompok masyarakat menggelar protes menuntut penutupan pangkalan tersebut agar Siprus tidak menjadi target dalam konflik regional yang semakin memanas.





