Perjanjian Dagang AS: Lompatan Besar Industri Indonesia

by

Perjanjian dagang antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) disambut baik oleh Wakil Ketua Umum DPP PKB, Faisol Riza. Menurutnya, perjanjian bilateral tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global dengan membuka peluang percepatan hilirisasi mineral nasional. Faisol menegaskan bahwa kesepakatan tersebut membuka jalan bagi hilirisasi pasir silika di Indonesia, yang merupakan bahan utama dalam produksi chip atau semikonduktor global. Dengan kerja sama ini, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemasok bagi perusahaan semikonduktor AS, sehingga meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Faisol juga menyoroti bahwa perjanjian tersebut memberikan fasilitas tarif nol persen ke Amerika untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia, yang sebelumnya dikenakan tarif antara 8 hingga 12 persen. Dia menegaskan bahwa kelompok industri tekstil, furnitur kayu, karet, dan berbagai produk IKM Indonesia akan sangat diuntungkan dari perjanjian ini, membuka peluang ekspansi ekspor dan peningkatan lapangan kerja di dalam negeri. Selain itu, Faisol menanggapi pandangan bahwa perjanjian ini tidak luar biasa karena Indonesia telah terlibat dalam perjanjian perdagangan regional dan multilateral sebelumnya. Menurutnya, pendekatan bilateral seperti ART memberikan fleksibilitas dan ruang yang lebih adaptif terhadap kepentingan nasional, serta memungkinkan untuk evaluasi dan renegosiasi jika diperlukan di masa depan.

Source link