Bahlil Lahadalia memastikan rencana pembelian minyak dan gas dari Amerika Serikat senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp253 triliun tidak akan meningkatkan total impor energi Indonesia. Menurut Bahlil, langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi kesepakatan dagang bilateral yang baru diteken oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Dalam konferensi pers di Washington DC, Jumat (20/1/2026), Bahlil menjelaskan pemerintah menyepakati pembelian BBM, LPG, serta minyak mentah dari AS sebagai upaya menjaga keseimbangan neraca perdagangan kedua negara.
“Untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, maka kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar 15 miliar dolar AS,” kata Bahlil. Meski nilainya besar, ia menegaskan kebijakan tersebut tidak menambah volume impor secara keseluruhan. Pemerintah hanya mengalihkan sebagian sumber pasokan yang sebelumnya berasal dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika ke Amerika Serikat. “Kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara. Secara keseluruhan, neraca komoditas pembelian BBM kita dari luar negeri tetap sama. Hanya saja sumbernya kita geser,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bahlil menekankan skema pembelian akan dijalankan dengan mempertimbangkan prinsip keekonomian yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. “Dalam praktiknya nanti, pembelian ini akan memperhatikan mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan, baik bagi pihak Amerika Serikat dan badan usahanya, maupun bagi pihak Indonesia,” tutupnya.





