Kota Bekasi mengalami dualisme dalam kepengurusan tinju amatir Indonesia yang belum selesai, menimbulkan dampak buruk bagi sistem pembinaan, atlet, dan prestasi tinju nasional. Konflik antar-elite organisasi telah menyulitkan atlet dalam mengikuti kejuaraan resmi, mendapatkan rekomendasi, dan berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Menurut Markus Gea atau Wira, mantan petinju Nasional, dualisme ini berdampak pada atlet yang harus mengalami ketidakpastian karier mereka akibat konflik yang terus berlanjut.
Di beberapa daerah, sasana tinju terbelah menjadi dua kubu kepengurusan, menyebabkan kegiatan kejuaraan tidak sinkron dan banyak turnamen yang legitimasinya dipertanyakan. Hal ini menunjukkan lemahnya tata kelola dan ketidaktegasan dalam pengambilan keputusan. Jika situasi ini terus berlangsung, Indonesia bisa kehilangan generasi petinju berbakat karena ketidakpastian dalam pembinaan atlet. Desakan pun muncul untuk pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk segera mengambil tindakan tegas dan mengakhiri dualisme demi kepastian pembinaan dan masa depan olahraga nasional.
Kesimpang-siuran organisasi tinju amatir Indonesia tidak hanya berdampak pada kinerja atlet, tetapi juga daya saing tinju Indonesia di tingkat internasional. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dan tegas dari pemerintah untuk mengakhiri konflik ini dan mengembalikan tinju amatir Indonesia ke jalur prestasi, profesionalisme, dan kepastian hukum. Semua pihak berharap pemerintah menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam penanganan situasi ini demi kebaikan olahraga nasional.





