Bitcoin sering kali dijuluki sebagai “emas digital” yang diyakini akan bersinar di tengah ketidakstabilan politik. Namun, data historis menunjukkan fakta yang berbeda. Selama satu dekade terakhir, Bitcoin lebih cenderung mengikuti tren pasar umum daripada berperan sebagai aset perlindungan. Pada empat penutupan sistem keuangan terakhir, Bitcoin mengalami penurunan harga atau tetap stagnan.
Hanya ada satu kejadian di mana Bitcoin menguat saat penutupan pemerintah pada Februari 2018, namun hal tersebut dianggap sebagai pantulan teknis akibat kondisi pasar yang sudah jenuh jual, bukan karena reaksi langsung terhadap isu politik. Dengan kata lain, dalam kondisi tren pasar yang sedang lemah, penutupan mungkin justru memperparah koreksi harga.
Selain itu, tekanan dari sektor penambang dan investor turut memengaruhi pasar kripto saat ini. Data dari CryptoQuant menunjukkan adanya tekanan pada sisi produksi, dengan perusahaan besar seperti CleanSpark, Riot Platforms, dan Marathon Digital melaporkan penurunan produksi akibat badai musim dingin di AS yang membebani jaringan listrik.
Data Net Realized Profit/Loss (NRPL) juga menunjukkan bahwa banyak investor mulai menjual aset mereka dengan harga tidak menguntungkan, menandakan adanya fase distribusi atau pengurangan risiko daripada akumulasi atau pembelian aset. Keseluruhan, kondisi internal pasar kripto menunjukkan variasi yang tidak menentu, yang perlu dipertimbangkan oleh para investor.





