Penampilan komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan spesial “Mens Rea” di Netflix telah menimbulkan reaksi luas di media sosial. Materi roasting yang mencela Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah memicu sejumlah akun yang diduga buzzer untuk aktif kembali dan bersuara membela. Sebaliknya, buzzer tersebut malah menyerang Pandji secara pribadi melalui berbagai platform digital. Pendakwah Ustaz Hilmi Firdausi, yang akrab disapa Gus Hilmi, menyoroti fenomena ini dengan mengkritik kemunculan kembali para buzzer yang dianggap dihidupkan kembali oleh Pandji melalui tayangan “Mens Rea”. Gus Hilmi bahkan menyindir bahwa pertunjukan tersebut seakan membuka peluang ekonomi bagi sebagian kelompok.
Gus Hilmi menegaskan bahwa buzzer seharusnya bersyukur kepada Pandji atas “pekerjaan” baru yang diberikan. Tanggapan Gus Hilmi tersebut menuai beragam reaksi dari warganet, mulai dari sindiran hingga kritik tajam. Salah satu pengguna, Irine Aditya, menyoroti klaim lapangan pekerjaan yang sering dikaitkan dengan tugas pejabat negara, sementara pengguna lain mempertanyakan sumber pendanaan dari aktivitas buzzer tersebut.
Debat pun terus bergulir, memanaskan diskusi publik seputar kebebasan berekspresi, kritik politik, dan peran buzzer di ranah digital Indonesia. Gus Hilmi dan komentar-komentarnya di media sosial telah memperkaya percakapan mengenai praktik buzzer dan dampaknya dalam lingkup digital. Semua ini menunjukkan bagaimana konten-konten digital memiliki pengaruh besar dalam masyarakat dan bagaimana reaksi masyarakat terhadapnya dapat mencerminkan dinamika sosial yang terjadi.





