Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) merayakan ulang tahun ke-11 mereka dengan menggelar acara di SCTV Tower, Jakarta. Acara ini menjadi wadah untuk mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) melalui pendekatan budaya dan sinema. KPB berkolaborasi dengan berbagai lembaga seperti SinemArt, Tarantella Pictures, The Big Pictures, Women’s Crisis Center (WCC) Puantara, dan Persatuan Wanita Jambi (Perwaja) dalam acara tersebut.
Salah satu momen penting dalam perayaan tersebut adalah pemutaran perdana trailer dan preview film Suamiku, Lukaku yang diikuti oleh diskusi bertema “Stop Normalisasi KDRT – Cerita Pembuatan Film Suamiku, Lukaku.” Produser dan sutradara film, Sharad Sharan, menegaskan bahwa film ini fokus pada nilai edukasi dan bukan eksploitasi. Anissa Putri Ayudya, intimacy coordinator dalam produksi film, menjelaskan peran pentingnya dalam menjaga kenyamanan para aktor selama adegan intimasi.
Dalam acara ini, Direktur WCC Puantara, Siti Husna Lebby Amin, juga menyampaikan pentingnya pencegahan dan edukasi yang berkelanjutan terkait KDRT. Film Suamiku, Lukaku mencoba menggambarkan berbagai bentuk KDRT untuk memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat. Selain diskusi, perayaan HUT KPB juga diisi dengan sesi edukasi tentang budaya dan tradisi, seperti memperkenalkan tengkuluk khas Jambi.
Acara ini juga menjadi ajang untuk mengapresiasi mitra komunitas yang telah mendukung KPB selama 11 tahun. Dengan harapan bahwa budaya dan seni dapat menjadi sarana untuk menyuarakan isu-isu penting, KPB menyatakan komitmen mereka untuk terus menjadi garda terdepan dalam menciptakan ruang aman bagi sesama. Keberanian untuk memunculkan isu sensitif seperti KDRT melalui medium seni seperti film membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengambil langkah lebih lanjut dalam mencegah kekerasan yang terjadi di rumah tangga.





