Insiden tragis yang menewaskan Bripda Ariq Irfansyah di Polda Jawa Barat telah membuka luka lama terkait kekerasan struktural dan budaya senioritas di kepolisian. Bripda Ariq, anggota muda yang rajin dan pendiam, meninggal setelah diduga menerima kekerasan fisik dari seniornya. Kematian Ariq telah menimbulkan reaksi keras dari publik, termasuk aktivis politik Rahman Simatupang yang menuntut tanggung jawab moral dari pimpinan kepolisian.
Insiden dimulai ketika Ariq dan rekannya dipanggil oleh para senior karena kesalahan kecil. Namun, teguran tersebut berubah menjadi hukuman fisik berlebihan, dengan Ariq akhirnya mengalami henti napas dan meninggal dunia. Rahman Simatupang menekankan perlunya tindakan tegas dari pemimpin kepolisian untuk mengakhiri budaya kekerasan.
Bidpropam Polda Jawa Barat telah mengamankan empat anggota yang diduga terlibat dalam insiden tersebut dan melakukan langkah investigatif untuk menangani kasus tersebut secara transparan. Autopsi juga dijadwalkan untuk dilakukan guna mengetahui penyebab kematian Ariq secara detail.
Kasus kematian Ariq menjadi refleksi dari rapuhnya sistem pembinaan personel di kepolisian dan menuntut evaluasi besar-besaran terkait pola pembinaan dan pengawasan. Keluarga Ariq menantikan keadilan atas kematian anak mereka, sementara publik menanti tindakan tegas dari Polri untuk memperbaiki sistem internal yang memungkinkan kekerasan terjadi.
Tuntutan pencopotan Kapolda Jabar semakin menguat di ruang publik, namun keputusan akhir tetap berada pada pimpinan Polri. Tragedi kematian Ariq menjadi momentum bagi perubahan dan menjadi refleksi dari perlunya perubahan kultur di tubuh kepolisian.





