Pusat Kajian Pembangunan Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (CHED ITB-AD) mengungkapkan adanya dilema antara pendapatan negara dari cukai rokok dan dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan oleh konsumsi rokok. Menurut Senior Advisor CHED ITB-AD, Mukhaer Pakkanna, industri rokok diduga memperkaya diri dengan memanfaatkan kelompok rentan, seperti masyarakat miskin dan anak-anak. Tantangan utama dalam mengendalikan konsumsi rokok bukan hanya berupa masalah ekonomi, melainkan juga soal politik. Lobbying politik yang kuat dari industri rokok menjadi hambatan dalam upaya pengendalian tembakau.
Roosita Meilani Dewi, Kepala Pusat Studi CHED ITB-AD, menyebut ekonomi rokok di Indonesia sebagai “Serakanomics”. Industri rokok disebut mengeksploitasi kecanduan masyarakat agar terperangkap dalam siklus pengeluaran yang merugikan. Meskipun demikian, menurunnya konsumsi rokok dinilai tidak akan melemahkan perekonomian, bahkan dapat memperkuat daya tahan bangsa.
Praktisi kesehatan Lily S. Sulistyowati membahas kebijakan pemerintah yang masih sangat bergantung pada cukai rokok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dia menekankan bahwa biaya kesehatan akibat rokok jauh lebih besar daripada penerimaan cukai. Paradigma kesehatan publik seharusnya berfokus pada pencegahan, dengan promosi dan preventif menjadi prioritas. Jika pengendalian tembakau tidak ditangani serius, tambahan anggaran kesehatan hanya akan seperti menimba air di kapal yang bocor.





