Puluhan eks teroris kelompok Ansor Daulah di Riau telah menyatakan bertobat dan berkomitmen kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baru-baru ini. Langkah mereka ini mencakup pelepasan baiat terhadap Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Namun, apakah mereka benar-benar bertobat secara tulus? Ahli psikologi dari Universitas Indonesia (UI), Zora A. Sukabdi, berpendapat bahwa mereka memang mengalami proses bertobat yang sejati. Meskipun demikian, terdapat dinamika dalam jaringan mereka antara generasi senior dengan generasi muda.
Menurut Zora, teroris memiliki kemampuan untuk bertobat, namun prosesnya bervariasi antara individu. Deradikalisasi yang efektif harus melibatkan aspek agama serta kesejahteraan secara menyeluruh. Meski demikian, deradikalisasi narapidana terorisme yang dilakukan oleh pemerintah telah menunjukkan progres yang baik, terutama dalam hal pengumpulan data para narapidana sejak penyelidikan hingga pembebasan.
Zora menekankan pentingnya dedikasi dan sinergi dalam mendampingi para pelaku terorisme yang bertobat. Meskipun ada tantangan terkait efisiensi anggaran, pemerintah harus konsisten dalam menjalankan program deradikalisasi. Inisiatif para mantan anggota dan pendukung kelompok Ansor Daulah serta pembubaran organisasi radikal Jamaah Islamiyah (JI) menunjukkan perubahan yang positif dalam dinamika terorisme di Indonesia. Proses deradikalisasi yang berkelanjutan diperlukan untuk memastikan keselamatan masyarakat dan membangun kedamaian di negara ini.





