Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto bukanlah sekadar inovasi ekonomi biasa. Menurut Wakil Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, konsep ini sebenarnya menjunjung tinggi semangat kebangsaan yang sudah ada sejak masa awal kemerdekaan, termasuk dari tokoh seperti Margono Djoyohadikusumo, Direktur Utama pertama Bank Indonesia.
Ferry mengungkapkan bahwa inspirasi terkait kopdes muncul saat melakukan ziarah ke makam Margono di Banyumas, Jawa Tengah. Dia merasa terinspirasi oleh semangat nasionalisme Margono, dan menyadari bahwa koperasi desa bukan hanya tentang ekonomi, melainkan konsep idealisme yang selama ini menjadi bagian dari pembangunan Indonesia. Margono, sebagai figur penting dalam perencanaan nasional di masa kemerdekaan, dianggap sebagai arsitek bangsa yang memperjuangkan ekonomi berbasis koperasi di desa.
Ferry menjelaskan bahwa ide koperasi desa sebenarnya tercantum dalam Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana. Setiap desa diharapkan memiliki koperasi sebagai bagian dari pembangunan nasional. Pembentukan Kopdes Merah Putih dipandang sebagai wujud dari inisiatif Deppernas yang kini menjadi Bappenas, yang menganggap koperasi desa sangat penting dalam upaya pemerataan kesejahteraan. Program ini bukan hanya sekadar unggulan, melainkan implementasi dari visi para pendiri negara yang menjadikan desa sebagai fondasi utama dalam membangun Indonesia yang adil dan sejahtera.
Ferry menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih akan menjadi penyokong ekonomi rakyat yang sejalan dengan semangat keadilan sosial. Beliau meyakini bahwa kekuatan Indonesia berasal dari desa, dan program ini merupakan langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut. Dengan demikian, Kopdes Merah Putih bukan hanya sebuah program, tetapi juga simbol perjuangan untuk memajukan ekonomi rakyat Indonesia.




