Fondasi Pembangunan #1: Ekonomi Untuk Rakyat Indonesia (Menghentikan Kekayaan Kita ke Luar Negeri)

by -26 Views

Penyakit terbesar yang saat ini sedang dihadapi oleh ekonomi Indonesia adalah aliran keluar kekayaan nasional dari wilayah Indonesia. Terlalu banyak hasil ekonomi Indonesia yang disimpan dan dimanfaatkan di luar negeri. Uang bagi suatu negara, kekayaan bagi suatu bangsa, sama halnya dengan darah bagi tubuh manusia. Saat ini, tubuh bangsa Indonesia sedang kehilangan darah, dan ini sudah terjadi selama puluhan tahun. Sejak zaman penjajahan, kekayaan Indonesia terus mengalir keluar dari negara ini.

Kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia. Artinya, seluruh bangsa Indonesia saat ini sedang bekerja dengan keras, namun hasil dari kerja keras itu malah memperkaya orang lain. Kita bekerja untuk orang lain, seperti indekos di rumah sendiri. Pada masa VOC yang menguasai ekonomi Indonesia, kekayaan negara ini mengalir begitu nyata ke luar negeri dan menjadi permasalahan yang disoroti oleh Generasi ’45. VOC menjadi perusahaan dengan nilai tertinggi dalam sejarah ekonomi dunia, namun keuntungan dari hasil ekonomi Indonesia disimpan di bank-bank Belanda.

Saat ini, kondisinya mungkin lebih sulit terlihat, namun tetap sama dengan kondisi pada masa VOC. Banyak dari kita tidak menyadari hal ini, atau jika mengetahuinya, ada yang diam atau menyerah pada keadaan. Ada beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan aliran kekayaan Indonesia ke luar negeri, seperti neraca perdagangan negara, data simpanan di bank-bank luar negeri yang dimiliki oleh pengusaha dan perusahaan Indonesia, serta perusahaan asing yang mengambil untung di Indonesia dan menempatkan keuntungannya di luar negeri.

Pada tahun 1997, total nilai ekspor Indonesia mencapai angka USD 1,9 triliun selama 17 tahun dengan surplus perdagangan. Namun, angka ini dapat keliru 20-40% akibat kesalahan dalam pembukuan nilai dan volume ekspor. Diperkirakan kebocoran ekspor akibat kesalahan ini mencapai USD 38,5 miliar pada 2016. Sementara itu, terdapat Rp. 11.400 triliun uang milik pengusaha dan perusahaan Indonesia yang parkir di luar negeri, lebih dari 5x APBN Indonesia saat ini.

Selain itu, keuntungan ekspor Indonesia masuk ke perusahaan-perusahaan asing dengan rekening di luar negeri, yang juga dimiliki oleh perusahaan asing dengan rekening luar negeri. Dalam hal ini, banyak uang yang seharusnya digunakan untuk membangun Indonesia justru tidak ada di dalam negeri dan menyebabkan bank-bank di Indonesia tidak memiliki cukup uang untuk memberikan kredit yang dapat membangkitkan ekonomi, serta tidak terjadi multiplier effect yang dapat membangkitkan gairah ekonomi Indonesia.

Selain ekspor yang salah dilaporkan oleh pengusaha Indonesia, jumlah simpanan di bank-bank luar negeri yang dimiliki oleh orang Indonesia juga cukup besar. Menurut Kementerian Keuangan, pada akhir 2016 ada Rp. 11.000 Triliun kekayaan orang Indonesia yang disimpan di bank-bank di luar negeri.

Indikator lain yang cukup miris adalah besarnya aset bank-bank di negeri tetangga, seperti di Singapura, dibandingkan dengan bank-bank terbesar Indonesia. Jumlah total aset tiga bank terbesar Indonesia hanya 23% dari yang dikuasai oleh tiga bank terbesar di Singapura, padahal ekonomi Indonesia 3 kali lebih besar dari Singapura.

Semua indikator ini menunjukkan bahwa kekayaan Indonesia terus mengalir keluar negeri dan menjadi masalah sistemik yang harus segera dihadapi. Kekayaan nasional dalam jumlah yang cukup besar telah hilang dan dikuasai oleh pihak-pihak asing, yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun Indonesia menjadi negara yang lebih baik.

Source link