Field Marshall Bernard Law Montgomery

by -68 Views

Oleh Prabowo Subianto [diambil dari Buku 2 Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto]

“Saat itu tidak lama setelah saya pensiun dari TNI, saya terenyuh saat membaca surat Montgomery kepada raja Inggris. Ia menulis, “Paduka yang mulia, setelah bertahun-tahun saya bertugas untuk kerajaan di luar negeri, kini tiba saatnya saya harus kembali ke Inggris. Saya harus melaporkan bahwa saya agak bingung karena setibanya saya pulang, saya tidak memiliki rumah. Semua harta pribadi yang saya titipkan di rumah saudara sudah dihancurkan oleh bom Jerman. Saya mohon perhatian dari Raja.”

Kita bisa membayangkan seorang panglima terkemuka, yang pernah memimpin jutaan tentara, memimpin pertempuran-pertempuran yang terkenal, seperti El Alamien, Normandy, dan lain-lain, begitu pulang dari perang, ia bingung karena tidak memiliki rumah. Hal ini terjadi di sebuah negara Barat yang pada saat itu bisa dikatakan sebagai super power. Saya berpikir, apa adanya saya dibandingkan dengan Montgomery.”

Saya telah membaca biografi Field Marshall Bernard Law Montgomery beberapa kali dalam versi yang berbeda. Saya juga telah membaca otobiografi beliau. Montgomery adalah sosok yang menarik. Ia meniti karier militer dari Akademi Militer Inggris yaitu Sandhurst. Kemudian saat Perang Dunia pertama terjadi, ia ikut serta dalam perang dan sempat terluka parah.

Setelah Perang Dunia pertama, ia melanjutkan kariernya langkah demi langkah. Pada Perang Dunia kedua, ia menjadi panglima divisi melawan Jerman di Prancis. Ia juga lolos dalam evakuasi di Dunkerque (Dunkirk) dan merupakan perwira kunci di tentara Inggris pasca peristiwa Dunkerque.

Ia dikenal sebagai perwira yang sangat profesional, yang fokus utamanya adalah pengabdian sebagai perwira lapangan. Sampai ia menjadi jenderal, ia tetap sangat bugar. Ia selalu berlari cross country dan tidak pernah merokok atau minum alkohol.

Ia gemar belajar sejarah dan akhirnya saat ditunjuk oleh Perdana Menteri Churchill menjadi panglima tentara ke-8 Inggris di Mesir melawan Rommel. Ia berhasil mengalahkan tentara Jerman dan Italia dalam pertempuran yang terkenal El Alamein di Mesir, sekitar 100 KM dari Alexandria.

Dari pertempuran El Alamien, ia mengejar Rommel sampai ke Tunisia. Ia memimpin pendaratan di Sisilia dan kemudian menjadi panglima pendaratan di Normandia, yaitu Operasi Overlord. Kemudian ia terus memimpin tentara sekutu sampai berakhir Perang Dunia Kedua dan ia sempat menjadi pimpinan tentara Inggris sampai pensiun.

Tentunya selain karier sebagai panglima yang cemerlang, ada hal-hal lain yang menarik atau membuat saya kagum tentang dirinya.

Pada suatu saat setelah saya pensiun dari tentara, saya berjalan di Kota Bangkok dan melihat ada toko buku dimana di luar toko buku tersebut ada suatu kotak berisi buku-buku bekas. Saya melihat buku bekas dan menemukan biografi Jenderal Montgomery. Setelah saya membaca, ada satu hal yang sangat menarik bagi saya, yaitu ternyata sesudah Montgomery meninggal, di arsipnya ditemukan surat yang ditulis kepada Raja Inggris George ke-6 sesudah Perang Dunia Kedua berakhir.

Dalam surat tersebut ia menulis kepada raja, “Paduka yang mulia, setelah bertahun-tahun saya bertugas untuk kerajaan di luar negeri, kini tiba saatnya saya harus kembali ke Inggris. Saya bicara kepada paduka yang mulia raja sebagai panglima tertinggi saya. Dan saya harus melaporkan bahwa saya agak bingung karena setibanya saya pulang, saya tidak memiliki rumah. Semua harta pribadi saya yang saya titipkan di sebuah rumah saudara sudah dihancurkan oleh bom Jerman. Anak saya satu-satunya sekarang berada di sebuah boarding school dan setiap libur saya tinggalkan kepada saudara-saudara dan teman-teman yang ada. Saya mohon perhatian dari Raja.”

Kita bisa membayangkan seorang panglima terkemuka, yang pernah memimpin jutaan tentara, memimpin pertempuran-pertempuran yang terkenal, seperti El Alamien, Normandia dan sebagainya. Begitu pulang dari perang, ia bingung karena tidak memiliki rumah, dan ia berani menulis surat kepada rajanya sebagai panglima tertinggi. Ini terjadi di sebuah negara Barat yang pada saat itu bisa dikatakan sebagai super power. Bahwa ada jenderal panglima yang tidak memiliki rumah.

Waktu itu saya tersentak, karena itulah nasib yang saya alami. Saat saya pensiun, saya pun tidak memiliki rumah. Saya memiliki sebuah rumah dinas, di Cijantung 2, yang memang milik tentara dan saya yakin suatu saat harus saya kembalikan.

Tetapi saat saya membaca cerita Montgomery bahwa ia pun pulang tidak memiliki rumah, akhirnya saya menyadari bahwa bayangkan panglima yang memimpin jutaan prajurit oleh negara super power seperti Inggris pada saat itu juga bisa tidak memiliki rumah. Apalagi saya? Apalah saya dibandingkan dengan Montgomery.

Jadi saat itu, semacam rasa sedih karena saya tidak memiliki rumah pribadi, akhirnya saya bisa terhibur dengan itu dan pada akhirnya saya pun memiliki rumah pribadi, walaupun melalui perjuangan yang tidak mudah.

Source link