Kepemimpinan Mayor Jenderal TNI (Purn) I Ketut Wirdhana

by -25 Views

Saya mengenal Pak Ketut Wirdana saat beliau menjadi komandan Brigade saya. Yaitu Komandan Brigade Infanteri 17/ KOSTRAD dengan pangkat Kolonel. Beliau lulusan Akmil tahun 1966 dan mantan Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 502. Salah satu Batalyon terbaik TNI. Beliau terkenal sebagai orang lapangan.

Sebagai komandan lapangan pada umumnya, pembawaan beliau sangat percaya diri, relaks, humoris, tidak protokoler, dan familier terhadap anak buah. Pada suatu saat dia datang berkunjung ke batalyon saya di Cilodong. Beliau tiba tepat pukul 12.00 WIB siang.

Kami berbincang-bincang di kantor saya sampai waktu apel siang pukul 13.45 WIB tiba. Trompet apel siang pun berbunyi. Hingga pukul 14.00 WIB, dia melihat ke lapangan dan menyaksikan tidak ada pasukan yang melaksanakan apel siang. Beliau pun bertanya apakah kompi saya tidak melaksanakan apel siang.

Saya menjelaskan kepadanya bahwa saya membebaskan apel siang kepada anak buah dengan pertimbangan bahwa kompi ini telah melaksanakan kegiatan fisik. Satu kompi telah melaksanakan latihan cross country. Satu kompi lagi habis melaksanakan latihan taktik. Bahkan satu kompi lagi masih berada di lapangan tembak. Satu per satu saya menjelaskan kompi-kompi saya. Semua punya kegiatan fisik yang memakan waktu dan tenaga Kemudian saya menjelaskan kepada beliau bahwa saya ingin memberikan waktu dan tindakan yang efisien kepada anak buah. Saya bebaskan mereka apel siang sehingga mereka bisa memanfaatkan waktu untuk mencuci pakaian, sepatu, membersihkan senjata dan yang tidak kalah penting juga adalah istirahat. Saya justru mengizinkan prajurit saya untuk tidur siang.

Namun saya juga menekankan kepadanya bahwa sebentar lagi, tepatnya pukul 15.50 WIB, pasukan saya akan melaksanakan kegiatan sore. Mereka akan melanjutkan kegiatan-kegiatan yang berbeda. Ada yang berlari, maraton, bela diri, bermain basket, voli dan termasuk melanjutkan latihan menembak di lapangan tembak. Pukul 15.50 WIB, lapangan-lapangan batalyon sudah penuh. Prajurit melaksanakan kegiatan masing-masing. Tidak ada yang tidak memiliki kegiatan.

Saya sampaikan kepada beliau bahwa dengan memberikan waktu tambahan kepada prajurit, mereka segar kembali, stamina pulih sehingga mereka semakin giat menjalankan latihan. Hampir setiap kejuaraan, batalyon saya menang. Demikian juga setiap operasi, selalu unggul.

Karena berdasarkan buku yang saya baca dan pengalaman, seorang prajurit pasukan tempur paling tidak suka bertele-tele. Mereka ingin menerapkan efisiensi waktu dan tenaga. Mereka juga tidak senang komandan berbicara terlalu lama.

Karena itulah saya terkesan dengan Pak Ketut. Beliau merupakan komandan yang bijaksana. Beliau bersedia mendengar penjelasan dan mengayomi anak buah. Karena memang kebijakan yang diambil anak buah tersebut masuk akal.

Memang banyak orang yang menjelekkan saya. Bagi saya hal itu biasa. Karena setiap orang ingin membuat inovasi, pasti banyak yang menentang. Itu pengalaman hidup saya. Tapi saya bersyukur selalu dilindungi komandan-komandan yang baik, salah satunya Pak Ketut.

Sumber: https://prabowosubianto.com/kepemimpinan-mayor-jenderal-tni-purn-i-ketut-wirdhana/

Source link