Prabowo Subianto: Kebijakan Tetangga Baik

by -76 Views

Prabowo menunjukkan kekuatan dalam logika geopolitik. Dia memulai paparannya dengan menyoroti posisi geografis Indonesia. Menurut Prabowo, Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis dan merupakan salah satu titik yang banyak dilalui oleh rute perdagangan internasional.

Dalam pandangannya, Prabowo menganggap penting bagi Indonesia untuk berperan sebagai tetangga yang baik bagi negara-negara di sekitarnya. Dia menyebutkan prinsip “seribu teman tidak cukup, satu musuh terlalu banyak” sebagai arah rencana strategi kebijakan luar negeri Indonesia untuk menjalin hubungan baik dan meminimalisir konflik dengan negara-negara lain.

Prabowo juga menyoroti keberhasilan negara-negara Timur dalam memerangi kemiskinan. Dia mengambil contoh kemampuan Tiongkok dalam mengurangi angka kemiskinannya dalam 50 tahun terakhir. Prabowo berpendapat bahwa Indonesia perlu melihat contoh kesuksesan ini dan menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia saat ini. Keberhasilan Indonesia dalam mengurangi kemiskinan dianggapnya sebagai kunci dalam meningkatkan peran Indonesia sebagai pemimpin di kawasan dan di dunia.

Dalam konteks kebijakan luar negeri, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia akan tetap berpegang pada prinsip bebas-aktif, tetap menjadi negara non-blok, dan non-terikat. Dia menekankan bahwa Indonesia akan menjaga hubungan baik dengan negara-negara besar dan memainkan peran sebagai jembatan antara kekuatan-kekuatan tersebut.

Prabowo juga akan aktif mempromosikan dialog, perdamaian, dan kompromi di berbagai bidang kerja sama internasional. Dia menjamin bahwa sikap non-terikat Indonesia akan diterjemahkan dalam bentuk keterbukaan untuk bekerja sama dengan pihak manapun yang sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia.

Poin penting lain yang disampaikan Prabowo adalah adanya kesetaraan dalam hubungan antar-negara di berbagai isu.

Artikel disusun oleh Broto Wardoyo, Kirana Virajati, dan Nida Rubini
Tim Riset Analisis Kebijakan Luar Negeri dan Diplomasi, Program Pascasarjana Hubungan Internasional, Universitas Indonesia